Survei Tunjukkan Belanja Iklan Politik Melonjak, Facebook Dominan

0
8

RUBRIKTANGERANG.ID- Belanja iklan politik untuk pemilu AS mengalami kenaikan tajam, dengan kampanye digital -dipimpin Facebook – yang menyumbang hampir seperlima dari total iklan politik itu, kata para peneliti, Rabu.

Sebuah laporan eMarketer memperkirakan total belanja media kampanye melonjak 63 persen dibandingkan dengan empat tahun lalu menjadi 6,89 miliar dolar AS, yang menandai kenaikan “intensitas” pemilihan presiden selain juga banyak kontes menjadi anggota Kongres.

Perkiraan untuk siklus pemilu 2019-2020 ini mencakup pengeluaran untuk iklan tingkat nasional, tingkat negara bagian dan lokal, termasuk iklan komite aksi politik untuk para kandidat dan kegiatan lobi.

Pengeluaran iklan politik, yang umumnya tertinggi selama kampanye pemilihan presiden, kemungkinan akan mencapai rekor, kata eMarketer.

“Lingkungan politik yang sangat partisan mendorong semakin banyak warga Amerika yang menyumbangkan uang kepada calon pilihan mereka dibandingkan dengan musim pemilu terakhir, yang pada gilirannya menyalurkan uang lebih banyak lagi ke dalam iklan,” kata laporan eMarketer.

Temuan suveri itu menunjukkan, televisi mengambil porsi terbesar iklan politik pada angka 4,5 miliar dolar atau 66 persen dari total, mengalahkan media cetak dan radio.

“Meskipun jumlah penonton terus menurun dan terpangkas, TV tetap menawarkan jangkauan yang kuat, terutama pada kalangan tua penduduk Amerika yang cenderung memberikan suara,” kata analis eMarketer Eric Haggstrom.

Sementara itu belanja iklan politik digital diperkirakan tumbuh lebih dari 200 persen dibandingkan dengan pemilihan presiden sebelumnya menjadi 1,34 miliar dolar, dan mencapai 19,4 persen dari total.

“Salah satu manfaat utama iklan digital melalui TV adalah kemampuan penyasarannya,” kata Haggstrom.

“Demografi rinci, audiens, dan penyasaran berbasis daftar memungkinkan pengiklan politik secara efisien menjangkau orang yang tepat dengan pesan yang tepat.”

Menurut eMarketer, Facebook diperkirakan menerima hampir 60 persen dolar digital, dengan 18 persen untuk Google dan 22 persen untuk layanan online lainnya.

“Facebook menawarkan jangkauan, kemampuan penyasaran, dan kemudahan penggunaan yang menarik para pengiklan politik,” kata Haggstrom.

“Calon bisa lebih cepat dan mudah mengirim iklan ke para pendukung potensial ketimbang melalui TV atau radio. Dalam sebuah pemilu yang kompetitif, ketepatan waktu, efisiensi dan relevansi adalah sangat penting.”

Platform-platform online menghadapi tekanan agar mengekang misinformasi politik -termasuk dari iklan para calon- namun sudah mengambil pendekatan berbeda.

Twitter melarang semua iklan calon politik dan Google menerapkan pembatasan “penargetan mikro” dari kelompok-kelompok demografis tertentu, sedangkan Facebook pada umumnya mengambil pendekatan lepas tangan untuk iklan politik.

Menurut eMarketer, sebagian besar uang yang dibelanjakan di Google adalah untuk iklan video YouTube.

“YouTube populer karena kampanye bisa menjalankan iklan yang sama atau serupa seperti yang mereka jalankan di TV, sembari menjangkau audiens yang berbeda,” kata Haggstrom.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here