Perang Harga Minyak Antara Rusia dan Arab Saudi Saat Pandemi Covid-19

0
28
Saudi Arabia's Crown Prince Mohammed bin Salman (L) sits beside Russia's President Vladimir Putin as they attend a meeting on the digital economy at the G20 Summit in Osaka on June 28, 2019. (Photo by Jacques Witt / POOL / AFP) (Photo credit should read JACQUES WITT/AFP via Getty Images)

rubriktangerang.id -Berkurangnya perjalanan dan aktivitas pabrik yang menurun dratis, karena pandemic Covid-19 sebagian negara melakukan lockdown, maka otomatis mengurangi permintaan akan minyak secara significant.

Menyebabkan over suplay dan harganya jatuh. Pada pertengahan Februari, Badan Energi Internasional memperkirakan bahwa pertumbuhan permintaan minyak pada tahun 2020 akan menjadi yang terkecil sejak 2011.

Penurunan harga ini menyebabkan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) membahas untuk pengurangan produksi untuk menyeimbangkan dan menjaga harga pasar minyak dunia.

Arab Saudi berencana untuk memotong produksi sebanyak 1.5 juta barel tiap hari, alasanya adalah bahwa Penurunan permintaan Tiongkok akan minyak.

Namun langkah Arab Saudi ditentang oleh Rusia yang sebenarnya telah sepakat dan bekerja sama dengan Arab Saudi selama 3 tahun terakhir.

Arab Saudi berharap harga minyak ada pada kisaran $ 82 per barel, sementara Rusia berharap pada kisaran harga $ 42 per barel.

Alasan Rusia membiarkan harga minyak pada harga terendah adalah untuk menahan laju dari pertumbuhan industri minyak di Amerika yang menjual dengan harga tinggi, sehingga Moskow bisa memastikan bahwa perusahan Amerika itu pada posisi tidak efisien.

Moskow meramalkan bila Indsutri minyak Amerika tidak ditekan dengan harga rendah, maka pada beberapa tahun kemudian Amerika akan menjadi produsen minyak terbesar di dunia

(*adi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here